Search This Blog

Loading...

Friday, 3 January 2014

Makalah Pemasaran Berwawasan Sosial

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Perkembangan pendekatan dalam manajemen pemasaran dilandasi oleh konsep dari pimpinan perusahaan/ organisasi lainnya dalam menjalankan kebijakan dan strategi pemasaran yang akan dilakukannya. Hal ini karena pemasaran merupakan suatu proses sosial dan manajerial dimana individu-individu dan kelompok-kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran produk-produk yang bernilai baik.
Dari perkembangan pemikiran tentang pemasaran terdapat 5 konsep yang mendasari pendekatan yang terdapat dalam manajemen pemasaran. Pemikiran inilah yang melandasi dan mengarahkan usaha-usaha pemasaran yang terkait dengan kepentingan perusahaan/ organisasi, konsumen/ langganan, dan masyarakat.
Untuk mencapai tujuanya, setiap perusahaan mengarahkan kegiatan usahanya untuk menghasilkan produk yang dapat memberikan rasa puas kepada konsumen sehingga mendapat keuntungan yang diharapkan. Dalam pelaksanaannya sering terjadi pertentangan kepentingan, oleh karena itu kegiatan pemasaran harus dijalankan atas dasar pemikiran dari pemasaran yang bertanggung jawab secara moral. Dalam hal ini kami akan membahas tentang pemikiran pemasaran terhadap masyarakat, dimana konsep ini merupakan suatu orientasi manajemen yang mengutamakan tugas perusahaan/ organisasi adalah menentukan kebutuhan keinginan dan kepentingan dari sasaran dan mengusahakan agar kesejahteraan masyarakat dapat terjamin kelangsungannya.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pemasaran Berwawasan Sosial
Dalam tahun-tahun belakangan ini, beberapa orang mempertanyakan apakah konsep pemasaran merupakan falsafah yang tepat dalam era perusakan lingkungan hidup, keterbatasan sumber daya, ledakan jumlah penduduk, kelaparan dan kemiskinan dunia, dan pengabaian pelayanan sosial. Perlukah perusahaan yang telah melaksanakan tugas memuaskan keinginan konsumen dengan sangat baik untuk beroperasi bagi kepentingan jangka panjang konsumen dan masyarakat? Konsep pemasaran mengesampingkan pertentangan potensial antara keinginan konsumen dan kesejahteraan sosial jangka panjang.
Keadaan ini memerlukan konsep baru yang memperluas konsep pemasaran. Beberapa konsep yang diusulkan adalah “pemasaran berkemanusiaan” dan “pemasaran sadar lingkungan hidup”. Kemudian yang terakhir adalah konsep pemasaran berwawasan sosial.
Konsep pemasaran berwawasan sosial menyatakan bahwa tugas organisasi adalah menentukan kebutuhan, keinginan, dan kepentingan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien daripada pesaing dengan mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraaan konsumen dan masyarakat.
Konsep pemasaran berwawasan sosial mengajak pemasar membangun pertimbangan sosial dan etika dalam praktek pemasaran mereka. Mereka harus menyeimbangkan dan menyelaraskan tiga faktor yang sering menjadi pertikaian yaitu laba perusahaan, pemuasan keinginan konsumen, kepentingan publik. Sejumlah perusahaan telah mencapai penjualan dan laba yang mengesankan dengan menerima dan menerapkan konsep pemasaran berwawasan sosial.
Adapun tujuan pemasaran adalah untuk mengenal dan memahami pelanggan sedemikian rupa sehingga produk cocok dengannya dan otomatis terjual karena sesuai. Idealnya pemasaran menyebabkan pelanggan siap membeli sehingga yang tinggal hanyalah bagaimana membuat suplly product atau mengusahakan agar produk selalu tersedia. Sedangkan proses pemasaran terdiri dari analisa peluang pasar, meneliti dan memilih pasar sasaran, merancang strategi pemasaran, merancang program pemasaran, dan mengorganisir, melaksanakan serta mengawasi usaha pemasaran.
Pemasaran berwawasan sosial dapat juga dikatakan sebagai proses pemasaran dengan berdasar pandangan pada aspek – aspek sosial. Seperti yang telah dijelaskan di atas maksud dari berwawasan sosial adalah pemasar dan individu atau kelompok mampu untuk saling melengkapi, dengan kata lain pemasar menciptakan penawaran kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan kemudian masyarakat mendapat kepuasan akan sesuatu yang ditawarkan oleh pemasar. Dengan demikian secara otomatis terbentuklah hubungan kerja sama sosial yang saling menguntungkan antara masyarakat dan pemasar. Dengan adanya keterkaitan ini diharapkan baik dari pemasar maupun pihak konsumen dapat saling menumbuhkan kepekaan sosial yang nantinya ditujukan untuk mencapai pemenuhan kebutuhan yang diharapkan.

B.     Hubungan CSR (Corporate Social Responsibility) Dan Pemasaran Berwawasan Sosial

 Gagasan CSR menekankan bahwa tanggung jawab perusahaan bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi ( menciptakan profit demi kalangan usaha ), melainkan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial. Dasar pemikiranya, menggantungkan semata-mata pada kesehatan financial tidaklah menjamin perusahaan akan tumbuh da berkembang secara baik.


Makalah Selengkapnya Download Disini

Makalah Pelanggaran HAM Berat Dan Ringan Di Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar belakang masalah

Hak asasi manusia adalah pokok atau hak dasar yang di bawa manusia sejak lahir yang secara kodrat  melekat pada setiap manusia dan tidak dapat di ganggu gugat karena merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut Mahfud MD,hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan hak tersebut dibawa manusia sejak lahir ke muka bumi sehingga,hak tersebut bersifat fitri(kodrat) dan bukan merupakan pemberian manusia atau Negara.
Menurut John Locke,hak asasi manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati.Oleh karena itu,tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang boleh merampasnya.Hal ini merupakan hak yang fundamental bagi hidup dan kehidupan manusia.
Menurut Prof.Koentjoro Poerbo Pranoto(1976),hak asasi manusia adalah hak yang bersifat asasi.artinya hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya yang tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya sehingga bersifat suci.Dengan kata lain,hak asasi merupakan hak dasar yang dimiliki pribadi manusia sebagai anugrah dari Tuhan yang dibawa sejak lahir sehingga hak asasi itu tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri.
Menurut G.J Wolhots,hak-hak asasi manusia adalah sejumlah hak yang melekat dan berakar pada tabiat setiap pribadi manusia dan justru karena kemanusiannya hak tersebut tidak dapat dicabut oleh siapa pun juga karena apabila dicabut akan hilang kemanusiannya.






BAB II
PEMBAHASAN

A.     Contoh Pelanggaran Ham Berat Di Indonesia
1.      Pelanggaran Ham Berat Yang Dilakukan Oleh Oknum TNI

Contoh pelanggaran Ham berat di Indonesia yang pertama dilakukan oleh oknum TNI. Sebagaimana yang kita ketahui TNI atau Tentara Republik Indonesia sejatinya bertugas untuk menjaga keutuhan negara dari serangan pihak luar yang mencoba merusak dan menghancurkan keutuhan negara, tetapi pada masa kekuasaan Presiden Soeharto,TNI beralih fungsi sebagai alat untuk memperkuat kekuasaan. Banyak kasus tindakan kriminal, penculikan dan pembunuhan kepada orang-orang yang menentang pemerintah.

Makalah Selengkapnya Download Disini

Makalah Tentang negara Maju


PEMBAHASAN

A.     Pengertian Negara Maju
Negara maju adalah sebutan untuk negara yang menikmati standar hidup yang relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata. Kebanyakan negara dengan GDP per kapita tinggi dianggap negara berkembang. Namun beberapa negara telah mencapai GDP tinggi melalui eksploitasi sumber daya alam (seperti Nauru melalui pengambilan phosphorus) tanpa mengembangkan industri yang beragam dan ekonomi berdasarkan-jasa tidak dianggap memiliki status 'maju'.
Negara maju adalah Istilah yang digunakan untuk menguraikan negara-negara yang dihitung menikmati tingkat pembangunan yang tinggi berdasarkan ukuran-ukuran tertentu. Ukuran yang mana dan negara mana yang digolongkan sebagai maju masih menjadi titik perselisihan dan perdebatan yang hangat, tetapi perdebatan semacam biasanya dikuasai oleh ukuran ekonomi. Salah satu ukurannya adalah pendapatan per kapita, yaitu negara yang GDP (Produk Domestik Bruto) per capitanya bisa diterima sebagai negara maju. Satu lagi ukuran ekonomi adalah pengindustrian, yaitu negara-negara yang ekonominya dikuasai oleh sektor tertier dan kuaterner bisa diterima sebagai negara maju. Baru-baru ini, adanya satu lagi ukuran yang semakin penting yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang bergabung dengan ukuran ekonomi, pendapatan negara, umur, pendidikan dan sebagainya. Ukuran ini menentukan negara yang terukur IPM sangat tinggi sebagai negara maju. Namun kaidahnya untuk dalam usaha menentukan taraf "maju" dengan mana-mana cara yang digunakan.

B.     Ciri-Ciri Negara Maju
Negara maju dapat didefinisikan sebagai suatu negara yang memiliki tingkat kemakmuran penduduk yang cukup tinggi, jika dibandingkan dengan negera lainnya. Adapun ciri-ciri negara maju, adalah sebagai berikut :
1.      Sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor industri dan jasa

2.      Pendapatan perkapitanya tinggi, yaitu di atas 10.000 US $.


Makalah Selengkapnya Download Disini

Makalah Tentang Negara Jepang

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Jepang adalah sebuah negara kepulauan yang didirikan oleh Kaisar Jimmu pada abad ke-7 SM. Jepang merupakan sebuah negara yang paling disegani di wilayah Asia karena memiliki tekhnologi yang jauh lebih maju dibandng dengan negara-negara di sekitarnya. Di Jepang terdapat 47 pemerintah daerah tingkat prefektur (setingkat provinsi) dan memiliki lebih dari 3300 pemerintah daerah pada tingkat bawah. Para kepala pemerintah daerah tersebut dipilih oleh rakyat setempat melalui pemilihan.
Jepang dimulai pada tahun 1603. Pada saat itu, Ieyasu yang telah berhasil menyatukan seluruh Jepang, membangun kekaisarannya di Edo, sekarang dikenal dengan Tokyo. Ieyasu mencoba membangun setiap aspek di negara ini sehingga negara ini mampu berdiri sendiri tanpa bantuan dari negara lain. Hasil dari politik yang dilakukan Ieyasu ini kemudian dimanfaatkan oleh Kekaisaran Tokugawa pada tahun 1639 dengan lahirnya Politik Isolasi. Latar belakang dari lahirnya Politik Isolasi ini banyaknya misionaris Kristen yang datang menyebarkan Agama Kristen. Berkembangnya Agama Kristen akan menjadi mimpi buruk bagi kekaisaran, oleh sebab itu Kaisar mengambil langkah untuk tidak berhubungan dengan negara asing, kecuali dengan Pedagang-Pedagang Belanda yang dinilai menguntungkan. Itu pun hanya dilakukan di satu tempat, yaitu di Pulau Dejima, Nagasaki.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Negara Jepang
Jepang adalah sebuah negara kepulauan yang berada di sebelah timur benua Asia. Di Jepang terdapat 4 pulau besar serta ribuan pulau kecil. Bentuk geografis Jepang memanjang dari utara ke selatan kira-kira 3800 kilometer. Luasnya kira-kira 370.000 kilometer persegi. Pulaupulau besar itu antara lain : Hokkaido, Honshu, Shikoku, dan Kyushu. Kepulauan Jepang 75% wilayahnya terdiri dari pegunungan, dan 25% terdiri dari daratan. Pegunungan Jepang memanjang diseluruh kepulauannya, berupa bukit-bukit yang tertutup hutan dan diantaranya ada lembah-lembah sempit yang dapat digunakan untuk pertanian. Di sana-sini terdapat gununggunung yang menjulang tinggi ke atas dan beberapa diantaranya adalah gunung berapi.
Di Pulau Honshu terdapat sederetan gunung yang dinamakan Alpen Jepang yang tingginya lebih dari 3000 meter. Di antara gunung-gunung itu terdapat gunung Fuji, yang merupakan gunung tertinggi di Jepang dengan berselimutkan salju abadi yang berada di puncaknya. Gunung Fuji berbentuk kerucut yang hampir sempurna dan keindahannya telah menarik banyak orang. Gunung Fuji tingginya 3776 meter, dan pernah meletus pada tahun 1770. Umumnya keadaan sungainya pendek-pendek dan mengalir deras. Diantara gunung Fuji ada lima danau yang sangat indah dan disebut Fuji Goko.
Di Gunung Fuji ada yang bersalju terus menerus sepanjang tahun, dan di puncak gunung Fuji terdapat Kuil. Di Jepang banyak terdapat gunung berapi (kazan) dan mata air panas (onsen). Di Honshuu bagian tengah banyak gunung tinggi yang disebut “Nihon Arupusu”. Di Jepang karena banyak gunung berapi maka banyak terdapat onsen. Gunung Aso terdapat di Kyushu. Gunung Aso merupakan gunung berapi yang berkawah dua lapis, kawahnya merupakan kawah yang terbesar di dunia. Gunung showashin terdapat di Hokkaido. Awalnya merupakan lading yang datarannya menjadi tinggi. Selama satu tahun tingginya mencapai 407 m. Gunung Showashin (gunung baru showa) terjadi karena lava yang ada di dalam tanah, kemudian timbul dan terangkat yang akhirnya menjadi gunung. Sumber air panas yang paling besar ada di Hokkaido yaitu Noboribetsu yang terjadi dari semburan air panas dari lava letusan gunung berapi.

B.     Musim Dan Iklim Negara Jepang
Jepang adalah negara kepulauan  yang panjang dan sempit membentang dari utara ke selatan dan terdiri dari gunung-gunung yang tinggi, hal ini menyebabkan iklim di bagian utara dan selatan jauh berbeda. demikian pula iklim di derah laut Jepang dan daerah Pantai Pasifik memiliki iklim yang berbeda pula.

Pada musim panas bertiup angin dari Samudra Pasifik, sedangkan pada musim dingin bertiup angin dari Laut Jepang (dari daratan Asia), sehingga pada musim panas di daerah pantai Samudra Pasifik banyak turun hujan, sedangkan di daerah pantai Laut Jepang banyak turun hujan pada saat musim dingin tiba. Cuaca di daerah Pantai Samudra Pasifik pada musim dingin akan cerah walaupun udara sangat dingin. Sebaliknya cuaca di daerah pantai Lautan Jepang akan gelap dan suhu udara sangat dingin disertai turunnya hujan.


Makalah Selengkapnya Download Disini

Makalah Melatih Menulis Kalimat

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi paling penting untuk mempersatukan seluruh bangsa. Oleh sebab itu, merupakan alat mengungkapkan diri baik secara lisan maupun tulisan, dari segi rasa harsa dan cipta serta piker baik secara efektif dan logis. Semua warga negara Indonesia harus mahir dalam menggunakan Bahasa Indonesia karena itu merupakan kewajiban bergaul di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu kita harus memajukan kepribadian Indonesia di dalam maupun di luar negeri.
Kepribadian Indonesia dapat tercipta dari kemahiran berbahasa Indonesia, bagi mahasiswa Indonesia semua itu dapat tercermin dalam tata pikir, tata tulis, tata ucapan dan tata laku. Berbahasa Indonesia dalam konteks Ilmiah dan Akademis, sebagai mahasiswa harus lebih dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar supaya negeri ini bisa tetap utuh terjaga.
Mahasiswa selain berbahasa Indonesia juga dapat menggunakan kalimat efektif. Kalimat yang disampaikan secara mudah dipahami oleh pembaca. Karya ilmiah ditulis untuk dipahami oleh pembaca. Penulis hendaknya memperhatikan kalimat yang disusun. Kalimat sangat penting dalam sebuah tulisan, kalimat yang baik mudah dipahami pembaca.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Melatihkan Menulis Kalimat
Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa diakui oleh umum. Menulis merupakan keterampilan yang mensyaratkan penguasaan bahasa yang baik. Dalam belajar bahasa, menulis merupakan kemahiran tingkat lanjut. Semi (1995: 5) berpendapat bahwa pengajaran menulis merupakan dasar untuk keterampilan menulis.
Penulis sendiri berpandangan bahwa untuk menulis, pembelajaran harus menguasai kaidah tata tulis, yakni ejaan, dan kaidah tata bahasa, morfologi dan sintaksis. Di samping itu, penguasaan kosakata yang banyak diperlukan pula.
Menulis sebagaimana berbicara, merupakan keterampilan yang produktif dan ekspresif. Perbedaannya, menulis merupakan komunikasi tidak bertatap muka (tidak langsung), sedangkan berbicara merupakan komunikasi tatap muka (langsung) (Tarigan , 1994: 2). Menurut Azies dan Alwasilah (1996: 128), keterampilan menulis berhubungan erat dengan membaca. Hal ini diakui pula oleh Semi (1995: 5). Semakin banyak siswa membaca, cenderung semakin lancar dia menulis.
Seberapa besar porsi materi menulis harus diberikan dibandingkan dengan materi berbicara, hal ini tidak ada ketentuannya. Setiap penyelenggara BIPA memiliki kebijakan masing-masing untuk menentukan porsi meteri ini sesuai dengan tujuan penyelenggaraan program. Alangkah baiknya setiap penentuan kebijakan didasarkan pada hasil penelitian motivasi pembelajar mengikuti program PBIPA. Menurut Alwi (1996: 30), mengutip pendapat Sumarmo (1988), orang Amerika mengikuti program BIPA dengan motivasi ingin dapat berbicara menempati urutan tertinggi (83%), sedangkan motivasi untuk dapat menulis makalah menempati urutan terbawah (13%).

Dalam kelas reguler pada jenjang-jenjang pertama, keterampilan menulis biasanya memperoleh porsi yang lebih sedikit. Sebaliknya, pada jenjang yang lebih tinggi materi menulis bisa memperoleh porsi yang sama dengan berbicara, bahkan bisa lebih, apalagi jika ada materi lain yang berkaitan dengan menulis. Pada jenjang yang lebih tinggi, cara berkomunikasi siswa dengan lingkungan bisa cenderung lebih bervariasi, tidak hanya menggunakan bahasa ragam lisan, tetapi juga menggunakan bahasa ragam tulis karena mereka sudah lebih mahir berbahasa Indonesia.


Makalah Selengkapnya Download Disini

Makalah Kepribadian Guru

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Salah satu penyebab rendahnya moral/ahlak generasi saat ini adalah  rendahnya moral para guru dan orang tua. Kecenderungan tugas guru hanya mentransfer ilmu pengetahuan tanpa memperhatikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam ilmu pengetahuan tersebut, apalagi kondisi pembelajaran saat ini sangat berorientasi pada perolehan angka-angka sebagai standarisasi kualitas pendidikan.
Setiap orang yang pernah sekolah, pastilah berhubungan dengan guru dan mempunyai gambaran tentang kepribadian guru. Walaupun gambaran tentang guru tidak lengkap dan mungkin tidak benar seluruhnya, namun orang akan berinteraksi dengan guru.
Guru adalah pribadi yang menentukan maju atau tidaknya sebuah bangsa dan peradaban manusia. Ditangannya, seorang anak yang awalnya tidak tahu apa-apa menjadi pribadi jenius. Melalui sepuhannyalah, lahir generasi-generasi unggul. Maka dari itu, didalam makalah ini akan dibahas tentang kepribadian guru.
Upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dilakukan dengan mengelola faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar, tetapi menurut Slameto (2003) secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam individu yang sedang belajar. Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.

B.     Rumusan Masalah
Sesuai latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Apa yang dimaksud dengan guru dan kepribadian guru ?
2.    Bagaimana perkembangan kepribadian guru ?
3. bagaimana upaya meningkatkan prestasi siswa ?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Guru dan Kepribadian Guru
1.      Pengertian Guru
Menurut kamus besar bahasa Indonesia guru adalah seorang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Dalam bahasa Arab disebut mu’allim dan dalam bahasa Inggris disebut Teacher. Semua memiliki arti yang sederhana yakni "A Person Occupation is Teaching Other" artinya guru ialah seorang yang pekerjaannya mengajar orang lain.
Sedangkan arti secara umumnya, guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
2.      Kepribadian Guru
Ada beberapa pengertian kepribadian menurut ahli sosiologi, diantaranya:
Ø  Menurut Horton (1982)
Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan tempramen seseorang. Sikap perasaan ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di hadapan pada situasi tertentu.
Ø  Menurut Schever Dan Lamm (1998)
Kepribadian adalah sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atau baku, sehingga kalau di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang di hadapi.
Seorang guru memiliki sikap yang dapat mempribadi sehingga dapat dibedakan ia dengan guru yang lain. Kepribadian menurut Zakiah Darajat disebut sebagai sesuatu yang abstrak, sukar dilihat secara nyata, hanya dapat diketahui lewat penampilan, tindakan, atau ucapan ketika menghadapi suatu persoalan.
Kepribadian mencakup semua unsur, baik fisik maupun psikis. Sehingga dapat diketahui bahwa setiap tindakan dan tingkah laku seseorang merupakan cerminan dari kepribadian seseorang. Setiap perkataan, tindakan, dan tingkah laku positif akan meningkatkan dan kepribadian seseorang. Begitu naik kepribadian seseorang maka akan naik pula wibawa orang tersebut.

Guru hendaknya memiliki kepribadian, yaitu diantaranya:


Makalah Selengkapnya Download Disini

Makalah Kalimat

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sebagai bagian terkecil ujaran atau teks, kalimat berstatus sebagai satuan dasar wacana yang bersangkutan. Artinya, wacana barulah mungkin terbentuk jika ada kalimat yang letaknya berurutan dan berdasarkan kaidah kewacanaan tertentu. Berkenaan dengan hal itu, pengenalan secara lebih seksama dan terpercaya terhadap kalimat sudah selayaknya bertolak dari bagian awal setiap wacana atau setidak-tidaknya dari bagian awal setiap paragraf/ alinea. Dapat dipastikan, bagian awal setiap wacana atau alinea adalah sebuah satuan kebahasaan yang disebut kalimat.
Hal lain yang juga dapat dipastkan mengenai bagian awal itu adalah adanya keseluruhan ciri pada kalimat. Masalah seperti itulah yang menarik penulis untuk mengambil topik “Kalimat” dalam penulisan makalah ini.

1.2  Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:
1)      mengetahui dan memahami tentang pengertian kalimat.
2)      mengetahui dan memahami tentang jenis-jenis kalimat.

1.3  Fokus Penelitian
Adapun fokus penelitian dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1)      apakah yang dimaksud dengan kalimat?
2)      apa saja jenis-jenis kalimat?

1.4  Sistematika Penulisan
Sistematikanya adalah bab I pendahuluan teridiri dari: latar belakang, tujuan penulisan, fokus penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II mengkaji jenis-jenis kalimat dalam Bahasa Indonesia, meliputi pengertian kalimat dan jenis-jenis kalimat. Bab III penutup meliputi: simpulan dan saran. daftar pustaka.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Kalimat
Kalimat merupakan satuan bahasa yang secara relative dapat berdiri-sendiri, mempunyai pola intonasi akhir dan terdiri-dari ataus klausa (Cook, 1971;Elson dan Picket, 1969). Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!).
Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). kalau tidak memiliki unsur subjek dan unsur predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat. Dengan kata yang seperti itu hanya dapat disebut sebagai frasa. Inilah yang membedakan kalimat dengan frasa.

2.2  Jenis-jenis Kalimat
Jenis Kalimat adalah gabungan dari beberapa kata yang mengungkapkan suatu maksud. Secara lisan, kalimat diiringi dengan nada bicara, jeda dan intonasi. Secara tertulis, kalimat ditandai dengan huruf kapital dan tanda baca yang sesuai.
2.2.1        Jenis Kalimat Menurut Struktur Gramatikalnya
Menurut strukturnya, kalimat bahasa Indonesia dapat berupa kalimat tunggal dan dapat pula berupa kalimat mejemuk. Kalimat majemuk dapat bersifat setara (koordinatif), tidak setara (subordinatif), ataupun campuran (koordiatif-subordinatif). Gagasan yang tunggal dinyatakan dalam kalimat tunggal; gagasan yang bersegi-segi diungkapkan dengan kalimat majemuk.
1.      Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Pada hakikatnya, kalau dilihat dari unsur-unsurnya, kalimat-kalimat yang panjang-panjang dalam bahasa Indonesia dapat dikembalikan kepada kalimat-kalimat dasar yang sederhana.
2.      Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara terjadi dari dua kalimat tunggal atau lebih. Kalimat majemuk setara dikelompokkan menjadi empat jenis, sebagai berikut:
a)      Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata dan atauserta jika kedua kalimat tunggal atau lebih itu sejalan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara penjumlahan.
Contoh: Kami membaca dan Mereka menulis.
b)      Kedua kalimat tunggal yang berbentuk kalimat setara itu dapat dihubungkan oleh kata tetapi jika kalimat itu menunjukkan pertentangan, dan hasilnya disebut kalimat majemu setara pertentangan.
Contoh: Amerika dan Jepang tergolong negara maju.
c)      Dua kalimat tunggal ata lebih dapat dihubungkan oleh kata lalu dankemudian jika kejadian yang dikemukakannya berurutan.
Contoh: Mula-mula disebutkan nama-nama juara MTQ tingkat remaja, kemudian disebutkan namanama juara MTQ tingkat dewasa.
d)     Dapat pula dua kalimat tunggal atau lebih dihubungkan oleh kata atau jika kalimat itu menunjukkan pemilihan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara pemilihan.
Contoh: Para pemilik televisi membayar iuran televisinya di kantor pos yang terdekat, atau para petugas menagihnya ke rumah pemilik televisi langsung.

3.      Kalimat Majemuk tidak Setara

Kalimat majemuk tidak setara terdiri atas satu suku kalimat yang bebas dan satu suku kalimat atau lebih yang tidak bebas. Jalinan kalimat ini menggambarkan taraf kepentingan yang berbeda-beda di antara unsur gagasan yang majemuk. Inti gagasan dituangkan ke dalam induk kalimat, sedangkan pertaliannya dari sudut pandangan waktu, sebab, akibat, tujuan, syarat, dan sebagainya dengan aspek gagasan yang lain diungkapkan dalamanak kalimat.

Makalah Selengkapnya Download Disini

Makalah Hubungan Ajaran Agama Dengan Kesehatan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pada zaman dahulu ketika tekhnologi belum dikenal oleh masyarakat umum secara luas setiap penyakit yang diderita oleh manusia sering sekali dikait-kaitkan dengan hal-hal yang berbau spiritual dan alam gaib, setiap penyakit dihubung-hubungkan dengan gangguan makhluk halus, oleh karena itu orang yang sakit lebih memilih berobat kedukun atau orang pintar yang dianggap bisa berkomunikasi langsung dengan makhluk halus ketimbang berobat ke tabib yang mengerti tentang jenis penyakit berdasarkan ilmu perobatan.
 Ketika pemikiran manusia mengalami perkembangan, maka hal yang demikian tidak berlaku lagi di tengah-tengah masyarakat kita yang sudah mengenal modernisasi. Segala macam bentuk penyakit yang di derita oleh manusia akan selalu mereka hubungkan dengan keadaan sang penderita dan untuk mengobati penyakit tersebut mereka akan selalu pergi kepada seorang dokter yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Kepercayaan ini memang sebagian besar dapat dibuktikan oleh keberhasilan pengobatan dengan menggunakan peralatan dan pengobatan hasil temuan di bidang kedokteran modern.

B.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui hubungan ajaran agama dengan kesehatan.
2.      Mengetahui hubungan dari gerakan wudhu dalam kesehatan.
3.      Mengetahui hubungan gerakan shalat dalam kesehatan.
4.      Mengetahui hubungan puasa dengan kesehatan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Agama Dan Kesehatan
Psikologi modern tampaknya memberi porsi yang khusus bagi perilaku keagamaan, walaupun pendekatan psikologis yang digunakan terbatas pada pengalaman empiris. Psikologi agama merupakan salah satu bukti adanya perhatian khusus para ahli psikologi terhadap peran agama dalam kehidupan kejiwaan manusia.
Pendapat yang paling ekstrem pun hal itu masih menunjukkan betapa agama sudah dinilai sebagai bagian dari kehidupan pribadi manusia yang erat kaitannya dengan gejala-gejala psikologi. Agama menurut Freud tampak dalam perilaku manusia sebagai simbolisasi dari kebencian terhadap Ayah yang direfleksi dalam bentuk tasa takut kepada Tuhan. Secara psikologis, agama adalah ilusi manusia. Manusia lari kepada agama karena rasa ketidakberdayaannya  menghadapi bencana. Dengan demikian, segala bentuk perilaku keagamaan merupakan ciptaan manusia yang timbul dari dorongan agar dirinya terhindar dari bahaya dan dapat memberikan rasa aman.

Lain halnya dengan penganut Behaviorisme. Walaupun dalam pembahasannya, Skinner, salah seorang tokoh Behaviorisme tidak menyinggung perilaku keagamaan secara khusus, namun tampaknya sama sekali tak dapat menghindarkan diri dari keterkaitannya dengan kenyataan bahwa agama memiliki institusi dalam kehidupan masyarakat. Dalam hubungan ini pula Skinner melihat agama sebagai isme social yang lahir dari adanya factor penguat. Menurutnya kegiatan keagamaan menjadi factor penguat sebagai perilaku yang meredakan ketegangan.

History of Psycholinguistics (Paper)

CHAPTER I

INTRODUCTION

A.    Backgrounf of Study
Psycholinguistics is a branch of study which combines the disciplines of psychology and linguistics. It is concerned with the relationship between the human mind and the language as it examines the processes that occur in brain while producing and perceiving both written and spoken discourse. What is more, it is interested in the ways of storing lexical items and syntactic rules in mind, as well as the processes of memory involved in perception and interpretation of texts. Also, the processes of speaking and listening are analyzed, along with language acquisition and language disorders.
Psycholinguistics as a separate branch of study emerged in the late 1950s and 1960s as a result of Chomskyan revolution. The ideas presented by Chomsky became so important that they quickly gained a lot of publicity and had a big impact on a large number of contemporary views on language. Consequently also psycholinguists started investigating such matters as the processing of deep and surface structure of sentences. In the early years of development of psycholinguistics special experiments were designed in order to examine if the focus of processing is the deep syntactic structure. On the basis of transformation of sentences it was initially discovered that the ease of processing was connected with syntactic complexity. However, later on it became clear that not only syntactic complexity adds to the difficulty of processing, but also semantic factors have a strong influence on it.


CHAPTER II
DISCUSSION


A.    An Historical Overview
The term psycholinguistics suggests that this is a field which depends in some crucial way on the theories and intellectual inter­change of both psychology AND linguistics. There have been two major periods in which psycholinguistic interests have flourished, once around the turn of the century, primarily in Europe, and once in the 1950s and 1960s, primarily in America (Blumenthal 1987, Reber 1987). Blumenthal (1970, 1974) has painted Leipzig's Wilhelm Wundt as the influential "master psycholinguist" during that first period, one who was prepared to demonstrate that language could be explained on the basis of psychological principles. It was a period when linguistics was prepared to exchange its older, Romanticist evaluation of language on cultural and aesthetic principles, for a more modern, 'scientific' approach to language. Wilhelm Wundt, and the new psychology, offered this with the rigor and enthusiasm that only a new scien­tific discipline can offer. Many younger linguists were keen to import this new rigor and scientific vision to linguistic theory and research, and for a time psychological concerns were directly reflected in the emerging field of linguistics. For example, all linguists know Leonard Bloomfield as the prototypical structuralist, often quoting his 1933 book as the classic text of the structuralist period in linguistics. But his little-known first book of 1914 pays careful homage to Wundtian psychology. Faced by the decline in the power of German intellectual life after the devastating first war and an equally weakened Wundtian cognitive psychology, his later book parallels the aspirations of the powerfully emerging behaviorism, but psychological theory no longer guides linguistic theory (see Kess 1983).
Curiously, there was to be another period of intellectual unity, equally fertile, equally enthusiastic, and equally brief (see Reber 1987, and McCauley 1987). This was the period after the 1960s, when lin­guistic theory fueled the engines of psycholinguistic enterprise. Specifi­cally, this was the type of linguistics founded on the theoretical pattern of transformational generative grammar, as proposed by Noam Chom­sky. But this unity of purpose also faded after several decades of experimentation based on Chomskyan theory, leaving us now with a more balanced, and certainly a more eclectic view of what psycholin­guistic theory should pursue in attempting to offer explanations for natural language. We will only pay attention to the history of psycholinguistics since that second period in the 1950s. The major reason for doing this is because this recent history reflects the changing roles of linguistics and psychology vis-a-vis one another in the contemporary discipline of psycholinguistics. It also represents a time when these two mature disciplines collaborate in meaningful and productive ways to approach the problems of the psychology of language.

B.     The Four Major Periods

Updating Maclay's useful (1973) classification of developmental steps in modern psycholinguistics, we can trace the field's progression in four major periods.


Makalah Selengkapnya Download Disini

 

By

Twitter

...................

Powered by Blogger.

..................

...............